Program ini dirancang sebagai forum pembelajaran, pertukaran gagasan, serta kolaborasi lintas negara yang berfokus pada peran strategis kepemimpinan lokal dalam transformasi administrasi publik. Salah satu isu utama yang diangkat adalah disaster resilience governance, yaitu tata kelola kebencanaan yang menekankan pada penguatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mengantisipasi, merespons, serta beradaptasi terhadap risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
Ketua panitia kegiatan, Dra. Asima Yanty Sylvania Siahaan, MA., Ph.D., menyampaikan bahwa pelaksanaan International Summer Course ini merupakan bagian dari komitmen USU untuk memperluas peran akademik dalam menjawab isu global. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penguatan kapasitas peserta, tetapi juga pada peningkatan reputasi institusi di tingkat internasional.
“Melalui kegiatan ini dapat memperkuat kontribusi USU bagi ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan sejalan dengan visi USU sebagai barometer ilmu pengetahuan global,” ujar Dra. Asima.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ke depan kegiatan serupa diharapkan mampu mendorong USU semakin dikenal sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat global, khususnya dalam bidang kepemimpinan lokal dan tata kelola ketahanan bencana yang inklusif. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring akademik internasional serta menarik minat mahasiswa asing untuk melanjutkan studi di USU.
Program ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari berbagai negara, yakni India, Thailand, Malaysia, Filipina, Nigeria, dan Indonesia. Keberagaman latar belakang peserta menjadi nilai tambah dalam memperkaya diskusi serta memperluas perspektif terkait praktik kepemimpinan lokal di berbagai konteks negara.
.jpeg)
Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam dua skema utama, yakni pembelajaran daring dan field research. Sesi daring berlangsung pada 21–24 April 2026 yang berisi pemaparan materi, diskusi akademik, serta studi kasus terkait disaster resilience governance. Selanjutnya, peserta mengikuti kegiatan lapangan pada 25–30 April 2026 di Kabupaten Karo sebagai salah satu wilayah rawan bencana di Sumatera Utara, serta di Kota Medan. Kegiatan lapangan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengamati secara langsung praktik tata kelola kebencanaan di tingkat lokal.
Menurut Dra. Asima, kombinasi antara pembelajaran teoritis dan pengalaman empiris di lapangan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap persoalan nyata yang dihadapi pemerintah daerah dalam mengelola risiko bencana.
“Program ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran daring, diskusi akademik, dan field research mampu memperkuat pemahaman peserta terhadap persoalan nyata di tingkat lokal,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini berhasil membangun jejaring internasional yang kuat, sekaligus mempererat hubungan antara USU dengan pemerintah daerah. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui penyusunan policy brief yang relevan dan aplikatif bagi pengambilan kebijakan di tingkat lokal.
“Ke depan, program ini dapat terus dikembangkan dengan cakupan peserta yang lebih luas, kolaborasi internasional yang lebih kuat, dan kontribusi kebijakan yang semakin nyata bagi daerah,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan International Summer Course ini, USU menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi dalam menghasilkan solusi konkret terhadap tantangan global, khususnya dalam penguatan kepemimpinan lokal dan ketahanan bencana menuju pembangunan yang berkelanjutan.