Kuliah umum ini diadakan serentak di seluruh kampus di 38 provinsi di Indonesia, dan dibuka oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno L. P. Marsudi, melalui platform Zoom Meeting. Setelah pembukaan oleh Menlu Retno, penyelenggaraan acara selanjutnya diserahkan kepada instansi masing-masing, termasuk di Universitas Sumatera Utara.

Wakil Rektor III USU, Prof. Dr. Apt. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, M.Si., memberikan kata sambutan dalam kegiatan ini. Beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kemlu dalam menyelenggarakan kuliah umum ini, yang memberikan wawasan mendalam mengenai politik luar negeri Indonesia kepada mahasiswa dan civitas akademika USU. “Kami berharap melalui kuliah umum ini, mahasiswa USU dapat lebih memahami dinamika diplomasi Indonesia dan peran strategisnya di kancah internasional,” ujar Prof. Poppy.
Dalam pemaparannya, Dr. Hatta Ridho mengupas perkembangan politik luar negeri Indonesia selama satu dekade terakhir. Ia menyoroti bagaimana Indonesia telah menunjukkan perkembangan signifikan, terutama dalam perannya di kancah global. “Indonesia berhasil mempertahankan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, yang memungkinkan negara ini untuk tetap independen tanpa memihak kekuatan dunia, sambil tetap berpartisipasi aktif dalam penyelesaian masalah internasional secara damai,” ungkap Dr. Hatta.
![]()
Dr. Hatta juga menjelaskan bahwa selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, politik luar negeri Indonesia lebih berfokus pada perdagangan dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Kebijakan ini dilakukan dengan mengutamakan kepentingan nasional dalam setiap hubungan luar negeri yang dijalin, sehingga mampu mendorong pembangunan bangsa secara signifikan,” tambahnya.
Sementara itu, Diana E. S. Sutikno menyoroti prioritas kebijakan luar negeri Indonesia yang berorientasi pada manfaat nyata atau tangible benefits. Diana memaparkan empat prioritas utama kebijakan luar negeri, yaitu kemandirian strategis, diplomasi ekonomi, peran di Asia Tenggara, dan perlindungan WNI. “Penguatan infrastruktur diplomasi sangat penting untuk mendukung capaian-capaian ini. Kita perlu memastikan bahwa diplomasi Indonesia memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” tegas Diana.
![]()
Diana juga menambahkan bahwa Indonesia telah memainkan peran penting dalam kawasan Asia Tenggara melalui pendekatan ASEAN Sentris. “Indonesia memposisikan ASEAN sebagai pusat dalam kebijakan luar negerinya, dan ini tercermin dalam berbagai inisiatif dan kerja sama yang dilakukan di tingkat regional,” ujarnya. Hal ini termasuk dalam penandatanganan berbagai perjanjian perdagangan bebas yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
![]()
Kuliah umum ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta aktif berdiskusi dengan kedua narasumber mengenai berbagai isu terkini terkait politik luar negeri Indonesia, khususnya terkait peran dan solusi strategis kemlu dalam konflik Palestina dan Israel. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan kesadaran mahasiswa serta civitas akademika USU tentang peran strategis diplomasi Indonesia di kancah internasional.