USU dan PERATIN Sumut Bahas Program Beasiswa Advokat bagi Mahasiswa dan Alumni Kurang Mampu
Penguatan Riset Global, USU dan International University Vietnam Resmi Jalin Kerja Sama
USU Ambil Peran dalam Konferensi Internasional di Pakistan
21 Mei 2026
Sulisintia Harahap
Port Moresby — Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Fakultas Kedokteran turut berpartisipasi dalam USDA Indo–PNG Japanese Encephalitis Workshop yang diselenggarakan pada 19–21 Mei 2026 di Holiday Inn Conference Centre, Port Moresby, Papua New Guinea. Kegiatan ini merupakan workshop pertama mitra proyek bertajuk “A One Health approach to understanding Japanese encephalitis virus ecology and transmission in Indonesia and Papua New Guinea” yang didukung oleh U.S. Department of Agriculture (USDA).
Workshop internasional ini dihadiri oleh mitra dari lima negara, yaitu Indonesia, Papua New Guinea, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Forum tersebut mempertemukan berbagai institusi riset, perguruan tinggi, lembaga pemerintah, serta mitra kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat untuk membahas penguatan surveilans Japanese Encephalitis Virus (JEV) melalui pendekatan One Health. Dari Indonesia, institusi yang terlibat antara lain Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Disease Investigation Center Denpasar, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Perwakilan Fakultas Kedokteran USU, Inke Nadia D. Lubis, MD, PhD, hadir sebagai salah satu pembicara dalam sesi Review of JEV in Indonesia dengan paparan bertajuk “Human and paediatric JE in Indonesia: Surveillance, burden and lessons for a One Health approach to JEV ecology and transmission.” Dalam paparannya, FK USU menekankan bahwa Japanese Encephalitis masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting karena bersifat endemik di Indonesia, dominan menyerang anak, dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
.jpeg)
“Keterlibatan USU dalam forum ini merupakan bagian dari komitmen universitas untuk memperkuat kontribusi riset dan kolaborasi internasional, khususnya pada isu penyakit infeksi, kesehatan anak, dan pendekatan One Health,” ujar perwakilan Fakultas Kedokteran USU.
Japanese Encephalitis merupakan salah satu penyebab utama ensefalitis virus di Asia. Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa secara global terdapat sekitar 100.000 kasus klinis JE setiap tahun. Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, terutama pada kasus ensefalitis, dan sebagian penyintas dapat mengalami gangguan neurologis jangka panjang. Di Indonesia, transmisi JE telah terkonfirmasi di 29 dari 34 provinsi, sehingga penguatan surveilans menjadi kebutuhan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit.

“Japanese Encephalitis tidak dapat dipahami hanya dari sisi kesehatan manusia. Penyakit ini berkaitan erat dengan hewan, nyamuk sebagai vektor, lingkungan persawahan, burung air, peternakan, serta perubahan iklim. Karena itu, pendekatan One Health menjadi sangat relevan,” jelas Inke Nadia D. Lubis dalam paparannya.
Selama tiga hari pelaksanaan, workshop membahas berbagai agenda strategis, mulai dari evaluasi hasil dan pembelajaran dari proyek surveilans sebelumnya, peninjauan tujuan proyek saat ini, perencanaan aktivitas untuk setiap objektif utama, hingga identifikasi peluang harmonisasi dan standardisasi kegiatan surveilans serta aktivitas laboratorium. Forum ini juga menjadi ruang bagi para mitra untuk memperkuat jejaring, memperkenalkan anggota tim baru, serta mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan terkait epidemiologi dan ekologi JEV, khususnya interaksi antara inang, vektor, dan faktor lingkungan yang memengaruhi transmisi penyakit.
.jpeg)
Kegiatan ini juga membahas pengalaman dan perspektif dari berbagai negara. Pada hari pertama, peserta mendiskusikan situasi JEV di Papua New Guinea dan Indonesia, termasuk surveilans pada manusia, hewan, dan nyamuk. Hari kedua difokuskan pada perspektif global JE, proyek penyakit tular vektor yang saling melengkapi di Indonesia dan Papua New Guinea, serta perencanaan implementasi proyek. Sementara itu, hari ketiga diisi dengan kunjungan lapangan ke peternakan babi Boroma, kawasan wetland Pacific Adventist University sebagai lokasi potensial surveilans burung air, serta Port Moresby Nature Park sebagai lokasi potensial kegiatan surveilans satwa liar.
Bagi USU, keterlibatan dalam kegiatan ini sejalan dengan upaya universitas memperluas jejaring akademik dan riset internasional, khususnya pada bidang kesehatan masyarakat, penyakit infeksi, zoonosis, dan penyakit tular vektor. Partisipasi FK USU juga memperkuat posisi universitas sebagai institusi yang aktif dalam pengembangan kajian One Health, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan penguatan sistem surveilans Japanese Encephalitis di Indonesia, peningkatan kapasitas diagnostik dan laboratorium, serta pengembangan rekomendasi kebijakan berbasis data. Selain itu, kerja sama lintas negara ini juga membuka peluang riset lanjutan bagi USU bersama mitra internasional dalam memahami pola transmisi JEV, faktor risiko ekologis, serta strategi pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan.