USU dan KOICA Matangkan Riset Blue Carbon Lewat Planning Workshop dan Launching SBC Project
Dipublish Pada
10 November 2025
Dipublish Oleh
Sulisintia Harahap
Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan Planning Workshop and Launching Ceremony – Sustainable Silvofishery and Blue Carbon (SBC) Project selama 2 hari pada 5–6 November 2025. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internasional antara Korea International Cooperation Agency (KOICA), Seoul National University (SNU), serta empat perguruan tinggi Indonesia: Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Andalas (UNAND), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan USU sebagai tuan rumah.
Program SBC Project dirancang sebagai upaya memperkuat riset dan implementasi silvofishery berkelanjutan serta pengembangan blue carbon, mengingat ekosistem pesisir Indonesia memiliki potensi penyerapan karbon yang sangat besar. Selama dua hari pelaksanaan, seluruh peserta membahas rancangan kerja riset, harmonisasi metode ilmiah, pembentukan konsorsium, hingga perencanaan registrasi proyek karbon biru pada platform internasional.
Kegiatan hari pertama (5/11/2025) dibuka dengan sambutan dari Direktur Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global USU, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh enam narasumber dari universitas mitra dan lembaga pendukung di Korea.
Para narasumber membahas topik mengenai perhitungan stok karbon mangrove, pemanfaatan citra satelit dalam pemetaan ekosistem pesisir, serta potensi penerapan teknologi Korea untuk mendukung registrasi proyek karbon biru. Sesi ini diikuti dengan diskusi untuk mengidentifikasi hambatan penelitian, kebutuhan metode yang seragam, serta peluang publikasi bersama antarnegara.
Pada hari pertama, USU turut memaparkan riset yang tengah dikembangkan melalui penyajian materi oleh Prof. Basyuni, Ph.D. Ia menjelaskan hasil awal penelitian terkait sistem silvofishery berkelanjutan di Belawan. Penelitiannya menunjukkan bahwa integrasi ekosistem mangrove dengan aktivitas perikanan dapat meningkatkan produksi sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan pesisir.
Kegiatan berlanjut ke hari kedua (6/11/2025) dengan penyelenggaraan launching ceremony SBC Project. Dalam kesempatan tersebut, Project Manager KOICA–ICAB SNU, Prof. Ho Sang Kang, memberikan sambutan dan menekankan pentingnya kerja sama yang terkoordinasi antara institusi Indonesia dan Korea.
“Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang sangat luas dan potensial. Dengan konsorsium riset seperti ini, kita bisa membangun standar ilmiah yang kuat, meningkatkan kapasitas peneliti, dan menghasilkan model silvofishery yang berkelanjutan,” terangnya.
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan teknis dari KOICA mengenai struktur proyek, tahapan kerja, pembagian peran institusi, dan rencana verifikasi karbon biru melalui Sustainable Resource Network (SRN). Presentasi juga disampaikan oleh Mr. Gyeongmin Noh dari TSE Group Korea yang fokus pada mekanisme pengajuan dan registrasi proyek SBC ke dalam sistem karbon internasional. Para peserta diberi gambaran mengenai alur kerja registrasi, mulai dari penyusunan baseline, verifikasi lapangan, hingga pelaporan karbon yang tersertifikasi.
Diskusi pada hari kedua berlangsung lebih mendalam, karena setiap universitas mitra memaparkan kondisi ekosistem pesisir di daerah masing-masing dan tantangan riset yang mereka hadapi. Beberapa peserta dari Indonesia menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat pesisir dalam implementasi silvofishery. Keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada metodologi riset, tetapi juga pada penerimaan masyarakat. “Riset harus memberi dampak langsung. Kita perlu memastikan masyarakat pesisir terlibat sejak awal agar mereka merasa memiliki program ini,” ungkap salah satu peserta saat diskusi panel.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi perumusan langkah kerja bersama, termasuk pembentukan Konsorsium SBC Indonesia–Korea. Konsorsium ini akan menjadi wadah koordinasi riset, penyusunan panduan metodologi, serta platform berbagi data antar universitas mitra.
Salah satu agenda penting pada hari kedua adalah penandatanganan Terms of Reference (ToR) oleh empat universitas Indonesia dan Seoul National University. ToR tersebut menjadi dasar komitmen kerja sama jangka panjang, yang mencakup riset lapangan, pelatihan peningkatan kapasitas peneliti, serta pendampingan teknis dari tim Korea dalam proses verifikasi karbon biru.
Dengan terlaksananya workshop dua hari ini, kolaborasi bersama USU, KOICA, SNU, dan perguruan tinggi nasional lainnya diharapkan dapat menghasilkan model ilmiah dan teknologi yang mampu meningkatkan kualitas pengelolaan pesisir serta memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim.
Kegiatan ditutup dengan harapan bahwa hasil diskusi dan kesepakatan dua hari ini dapat segera terealisasi, baik untuk kepentingan akademik maupun kebermanfaatan masyarakat pesisir.