USU Ambil Peran dalam Konferensi Internasional di Pakistan
USU Dorong Kepemimpinan Lokal Berbasis Ketahanan Bencana melalui International Summer Course
Majoris Asset Management Salurkan Dukungan Kemanusiaan melalui USU Peduli
13 Februari 2026
Sulisintia Harahap
Diskusi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama USU, Prof. Dr. Apt. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ruang akademik, melainkan ruang refleksi bersama untuk menjawab tantangan besar yang dihadapi masyarakat Sumatera.
“Forum ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga ruang refleksi bersama atas tantangan besar yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai masyarakat Sumatera. Kita ingin mencari titik temu dari adanya tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab ketidakseimbangan alam, dengan realita dan fakta yang sebenarnya,” ujar Prof. Poppy.
Diskusi menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan, antara lain Dr. Ardhasena Sopaheluwakan dari BMKG, Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.P., serta Prof. Ir. Diana Chalil, M.Si., Ph.D. Forum ini juga dihadiri oleh Ketua Gapki Cabang Sumatera Utara, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia, pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, serta komunitas pemerhati lingkungan.
Dalam diskusi, isu banjir besar yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera pada 2025 menjadi sorotan utama. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan beragam mengenai faktor penyebabnya. Beberapa peserta menilai bahwa polemik di masyarakat terkait kelapa sawit tidak semata-mata karena komoditas tersebut dianggap sebagai penyebab utama bencana, melainkan karena kebijakan ekspansi dan tata kelola yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.
Di satu sisi, sektor sawit kerap mendapat tudingan sebagai faktor yang memperparah ketidakseimbangan ekosistem dan meningkatkan risiko banjir. Di sisi lain, industri sawit memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan jutaan masyarakat, termasuk petani kecil dan pekerja.
Ada pula peserta yang berpendapat bahwa banjir Sumatera 2025 tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari keberadaan perkebunan sawit saja. Menurut pandangan tersebut, fenomena banjir perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk siklus iklim regional, intensitas curah hujan ekstrem, perubahan pola cuaca global, serta kondisi hidrologi dan tata ruang wilayah.
Diskusi juga menyinggung keterkaitan antara perubahan iklim global dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa anomali cuaca dan peningkatan curah hujan ekstrem memiliki kontribusi signifikan terhadap risiko banjir, terutama di daerah dengan perubahan tutupan lahan yang cukup masif.
Selain faktor iklim, penggundulan lahan dan perubahan fungsi kawasan hutan turut menjadi bagian pembahasan. Sejumlah peserta menekankan pentingnya evaluasi tata guna lahan secara menyeluruh serta penerapan praktik pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan untuk meminimalkan risiko lingkungan.
“Perubahan iklim berinteraksi dengan berbagai faktor lokal, seperti tata guna lahan, sistem hidrologi, perencanaan wilayah, dan praktik pengelolaan sumber daya alam. Karena itu, diskusi ini harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah yang objektif, berbasis data, dan terbuka,” terang Prof Poppy.
Melalui diskusi ini, USU berharap lahir rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy) serta model kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Pendekatan multidisipliner dinilai penting untuk mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen USU dalam menghadirkan forum ilmiah yang responsif terhadap isu strategis nasional dan regional. Diskusi diharapkan tidak hanya menjawab perdebatan publik, tetapi juga memperkuat ketahanan wilayah terhadap risiko bencana di masa mendatang.