home icon
search icon
menu icon

USU Gelar FGD Optimalisasi Fasilitas 3D Metal Printer untuk Dorong Kolaborasi Riset dan Industri

Dipublish Pada

27 Oktober 2025

Dipublish Oleh

Sulisintia Harahap

Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global (DIKG) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Fasilitas BLT-A160 3D Metal Printer untuk Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Industri”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 23–24 Oktober 2025 di Grandhika Hotel Medan.

 

 

FGD ini dihadiri oleh Direktur Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., Manajer Kemitraan Global Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si., perwakilan Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Gigi, serta sejumlah peneliti dan dosen.

 

 

Dalam sambutannya, Prof. Himsar menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya USU untuk memperkuat sinergi riset yang berorientasi pada kebutuhan industri. “Fasilitas 3D Metal Printer ini bukan hanya infrastruktur penelitian, tetapi juga aset strategis yang bisa mempertemukan dunia akademik dengan industri. Kita ingin hasil riset USU benar-benar terpakai dan memberi nilai tambah di sektor manufaktur dan kesehatan,” ujarnya.

 

 

FGD hari pertama berfokus pada pemetaan kebutuhan dan peluang riset yang dapat dikembangkan dengan teknologi 3D metal printing. Para peserta berdiskusi mengenai potensi aplikasi mesin BLT-A160 dalam bidang teknik, kedokteran, material sains, hingga pertanian presisi. Beberapa ide kolaborasi muncul dari diskusi tersebut, termasuk pengembangan komponen mesin pertanian, alat kesehatan, dan produk berbasis logam ringan untuk industri kecil menengah (IKM).

 

 

Salah satu peserta dari Fakultas Teknik menyampaikan bahwa penguatan aspek hilirisasi harus menjadi prioritas utama. “Kita tidak boleh berhenti pada tahap riset laboratorium. Dengan adanya fasilitas seperti BLT-A160, USU punya kesempatan besar untuk menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan riil industri nasional,” ungkapnya.

 

 

Senada dengan hal tersebut, peserta dari Fakultas Kedokteran Gigi menambahkan pentingnya riset lintas bidang yang melibatkan akademisi kedokteran, teknik, dan farmasi. “Teknologi 3D printing bisa dimanfaatkan untuk pembuatan implan, prostesis, dan instrumen medis. Jika dikelola bersama, USU dapat menjadi pusat pengembangan material biomedis di Sumatera,” ujarnya.

 

 

Hari kedua FGD difokuskan pada penyusunan peta jalan (roadmap) pemanfaatan fasilitas serta strategi pengelolaan yang lebih efektif. Para peserta juga memberikan saran terkait skema kerja sama yang dapat diterapkan antara USU dan pihak eksternal, baik industri, lembaga riset, maupun pemerintah daerah.

 

 

“Penyusunan roadmap penelitian USU berawal dari integrasi roadmap 176 program studi dan 16 fakultas. Sumber utama penyusunan roadmap berasal dari hasil FGD, Rencana Strategis (Renstra) USU 2025, strategi fakultas, dan analisis kebutuhan pasar,” jelas Prof Syafrudin selaku Sekretaris Lembaga Penelitian USU.

 

 

 

Beliau juga menegaskan bahwa terdapat tujuh bidang penelitian unggulan USU (TALENTA), yang menjadi acuan utama dalam mengarahkan riset agar lebih fokus, berdampak, dan berorientasi pada penguatan daya saing institusi.

 

 

Hari kedua FGD ini juga menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Sugeng dari IPB University dan Prof. Elfahmi dari Institut Teknologi Bandung. Kedua narasumber menyampaikan sudut pandang tentang pentingnya riset sebagai ujung tombak penyusunan roadmap. 

 

 

“Roadmap adalah kumpulan potongan puzzle yang harus memiliki arah dan tujuan jelas. Tahapan penting yang perlu diperhatikan meliputi: - Mengidentifikasi profil penelitian eksisting sebagai baseline. - Memilih riset dengan nilai tinggi dan berdampak luas. - Mendorong riset menuju komersialisasi dan penerapan masyarakat,” jelas Prof. Elfahmi

 

 

“IPB aktif melakukan launching riset unggulan untuk memperkuat branding riset dan komunikasi publik. Hingga kini, IPB telah mengomersialisasikan 48 produk riset yang dihasilkan melalui kolaborasi dengan mitra industri dan masyarakat. Pendekatan riset berbasis kebutuhan mitra dinilai efektif untuk mempercepat hilirisasi dan komersialisasi,” terang Prof. Sugeng.

 

 

Perwakilan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), PT VVF Indonesia, menyampaikan tantangan yang dihadapi sektor industri, khususnya dalam proses fabrikasi spare parts. Hambatan utama terletak pada ketersediaan material yang sering kali bergantung pada pasokan dari Jakarta, yang menyebabkan keterlambatan waktu pengerjaan. “Dengan adanya fasilitas seperti BLT-160 3D Metal Printer, kami berharap dapat memperoleh solusi fabrikasi cepat dan efisien melalui kerja sama dengan USU.”

 

 

Prof. Himsar menutup kegiatan dengan menegaskan pentingnya tindak lanjut konkret dari hasil FGD. “Kita ingin riset di USU tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga produk inovatif yang siap dikomersialisasi. Untuk itu, kami akan membentuk tim lintas fakultas yang bertugas mengoordinasikan riset terapan berbasis fasilitas 3D Metal Printer,” pungkasnya.

 

 

Melalui FGD ini, USU berharap dapat mengoptimalkan fungsi BLT-A160 3D Metal Printer sebagai sarana kolaborasi riset lintas disiplin dan menjembatani hubungan antara kampus dan industri. Langkah ini menjadi bagian dari strategi universitas dalam memperkuat peran riset terapan untuk mendorong inovasi dan kemandirian teknologi nasional.

 

 

 

 

Berita