USU Gelar Kuliah Umum, Bahas Keamanan Infrastruktur Kritis
Dipublish Pada
12 Februari 2025
Dipublish Oleh
Sulisintia Harahap
Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan kuliah umum bertajuk “Critical Infrastructure Security and Resilience for Regional Stability” pada Selasa (11/02/2025). Acara ini berlangsung di Ruang Senat Akademik Lantai 3, Gedung Rektorat USU dan menghadirkan narasumber, Dr. Paulus Wahjudi dari Marshall University Institute for Cyber Security.
Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global (DIKG) yang diwakili oleh Sekretaris DIKG, Arif Nuryawan, S.Hut., M.Si., Ph.D. Diskusi antara narasumber dan peserta dipandu oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Dr. M. Andri Budiman, selaku moderator.
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III USU, Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, M.Si., Apt., yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya keamanan infrastruktur dalam mendukung stabilitas kawasan. “Di era digital ini, infrastruktur kritis menjadi target yang rentan terhadap berbagai ancaman siber. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dan pemahaman yang mendalam untuk meningkatkan ketahanan terhadap potensi ancaman,” ujar Prof. Poppy.
Dr. Paulus Wahjudi, menjelaskan bahwa terdapat 16 sektor infrastruktur kritis yang dikategorikan oleh Cybersecurity & Infrastructure Security Agency (CISA). Infrastruktur ini dapat bersifat permanen maupun semi permanen, mobile maupun imobile, serta statis maupun dinamis. Dengan cakupan yang luas, sektor-sektor ini memiliki potensi vektor serangan yang besar.
Dr. Paulus juga menyoroti pentingnya perlindungan infrastruktur kritis dengan memberikan contoh simulasi serangan siber terhadap jaringan listrik di Amerika Serikat yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari $1 triliun. Selain itu, pelanggaran sistem air dapat menyebabkan penyakit massal dan korban jiwa, sementara fasilitas kesehatan yang terkena dampak serangan siber dapat dipaksa kembali ke metode manual.
Menurut Dr. Paulus, strategi utama untuk mengamankan infrastruktur kritis meliputi pendekatan komprehensif dalam National Cyber Strategy untuk meningkatkan keamanan siber di semua tingkat. Selanjutnya, dibutuhkan Incident Response Frameworks untuk memastikan respons cepat dan terkoordinasi terhadap insiden. Critical Infrastructure Protection berfokus pada regulasi dan investasi guna melindungi layanan esensial dari kejahatan siber. Public-Private Partnerships penting untuk kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam berbagi intelijen. Selain itu, Increased Investment in Cyber Education diperlukan untuk memperluas pelatihan bagi profesional keamanan siber, sementara penerapan Zero Trust Architectures dapat mengurangi risiko pergerakan lateral dalam kasus pelanggaran keamanan.
Acara ini dimoderatori oleh Dr. M. Andri Budiman, yang memandu jalannya diskusi antara narasumber dan peserta. Dalam sesi tanya jawab, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan beragam pertanyaan menarik, seperti fenomena phishing, kehadiran DeepSeek sebagai pesaing AI, serta dampak judi online di kalangan mahasiswa. Narasumber menjawab pertanyaan dengan analisis yang mendalam serta memberikan wawasan terkait langkah-langkah strategis dalam mengatasi ancaman-ancaman tersebut.
Selain sesi diskusi, acara ini juga dimeriahkan dengan kuis interaktif yang diberikan oleh narasumber seputar materi yang telah dipaparkan. Peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar berkesempatan mendapatkan hadiah menarik, yang semakin meningkatkan semangat partisipasi mereka.
Kuliah umum ini diharapkan dapat memperkaya wawasan akademik mahasiswa dalam bidang keamanan siber dan ketahanan infrastruktur. Dengan meningkatnya pemahaman akan ancaman digital dan strategi mitigasinya, diharapkan generasi muda dapat berperan aktif dalam menjaga stabilitas regional di masa depan.