home icon
search icon
menu icon

USU Gelar Kuliah Umum Bersama BRIN, Bahas Transisi Energi untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Dipublish Pada

25 Februari 2025

Dipublish Oleh

Sulisintia Harahap

Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah umum bertajuk “Transisi Energi untuk Menghambat Pemanasan Global dan Bencana Perubahan Iklim” pada Senin (24/02/2025) di Ruang Senat Akademik, Lantai 3, Gedung Rektorat USU. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ir. Yohannes Sardjono, APU, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai narasumber utama.

Kuliah umum ini dibuka dengan sambutan oleh Direktur Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global USU, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., yang menekankan pentingnya peran transisi energi dalam upaya memperlambat pemanasan global dan mengurangi risiko bencana perubahan iklim. “Kuliah umum ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi kita semua, terutama bagi para mahasiswa, untuk memahami lebih dalam materi terkait transisi energi. Pemanasan global dan perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi tantangan nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Kenaikan suhu bumi, perubahan pola cuaca ekstrem, mencairnya es di kutub, dan meningkatnya frekuensi bencana alam adalah bukti nyata dari dampak perubahan iklim,” ujar Prof. Himsar.

Dalam paparannya, Prof. Yohannes Sardjono menjelaskan bahwa pemanasan global terjadi akibat peningkatan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, seperti industri, transportasi, dan pertambangan. Ia juga menyoroti berbagai sumber energi yang dapat menjadi solusi dalam mengurangi emisi karbon, termasuk pemanfaatan energi terbarukan dan pengembangan teknologi energi nuklir yang lebih ramah lingkungan. 

Prof. Yohannes menegaskan bahwa perubahan iklim tidak bisa lagi dianggap sebagai isu masa depan, melainkan tantangan yang harus kita hadapi sekarang. Transisi energi adalah langkah krusial dalam mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ketergantungan kita pada bahan bakar fosil. 

“Kita harus mulai memikirkan bagaimana inovasi di bidang energi dapat dikembangkan, termasuk pemanfaatan nuklir yang lebih aman dan efisien. Teknologi seperti Small Modular Reactors (SMR) dapat menjadi salah satu solusi energi bersih yang layak diterapkan,” tambahnya.

Selain itu, diskusi juga membahas implementasi Small Modular Reactors (SMR) sebagai alternatif energi masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi ini telah diuji coba di berbagai negara dan dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengatasi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Prof. Yohannes juga menekankan bahwa transisi energi bukan hanya kebutuhan, tetapi juga keharusan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya bagi generasi mendatang.

Kuliah umum ini dihadiri oleh Manajer Kemitraan Global USU, Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si., serta para mahasiswa dan akademisi USU yang antusias mengikuti diskusi. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan sivitas akademika USU semakin memahami urgensi transisi energi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta dapat berkontribusi dalam riset dan inovasi di bidang energi berkelanjutan.

 

 

 

Berita