USU Gelar Kuliah Umum Bahas Energi Nuklir dan Material Komposit Bersama Engineer Michelin Prancis
Dipublish Pada
26 Juni 2025
Dipublish Oleh
Sulisintia Harahap
Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Nuclear Energy: From Extremely Small Fission Scale to Extremely Large Worldwide Impact” dan “Composite Materials: Diversity of Use and Focus on Mechanical Design”. Kegiatan yang terselenggara atas kolaborasi USU bersama Alliance Française Medan ini dilaksanakan pada Rabu (25/06/2025) di Ruang Rapat Senat Akademik Lantai 3, Gedung Rektorat USU.
Kuliah umum ini menghadirkan narasumber utama, Rémi de Reynal, seorang Research and Development Mechanical Engineer di Michelin, Prancis. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Manajer Internasionalisasi USU, Prof. Rikson Asman Fertiles Siburian, S.Si., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Rikson mengajak seluruh sivitas akademika USU untuk bangga terhadap almamaternya sendiri dan turut mendukung proses internasionalisasi kampus.
“Kita terkadang jika ditanya kampus mana yang terbaik di dunia, pasti menyebut universitas seperti Oxford, Harvard, atau Cambridge. Tidak ada yang menjawab ‘Universitas Sumatera Utara’. Padahal jika kita bangga dan memilih almamater sendiri, itu menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi kampus kita,” tegasnya.
President of Alliance Française Medan, Pogy Kurniawan, juga turut menyampaikan sambutan dan apresiasinya atas terselenggaranya kuliah umum ini. Ia berharap kolaborasi antara Indonesia dan Prancis di bidang pendidikan semakin kuat ke depannya.
Materi sesi pertama membahas tentang Nuclear Energy, yang mengupas secara mendalam tentang proses pembangkitan energi dari reaksi fisi nuklir. Rémi menjelaskan bahwa energi nuklir merupakan salah satu sumber energi yang paling efisien, di mana hanya 0,7% dari total uranium yang bisa digunakan sebagai bahan bakar reaksi fisi.
“Mengendalikan reaksi nuklir tidak mudah. Dalam satu proses fisi uranium-235, rata-rata menghasilkan 2,4 neutron, namun reaksi ini tidak bisa terus berlangsung tanpa pengendalian yang tepat terhadap proses penyerapan neutron,” jelasnya.
Rémi juga memaparkan bahwa energi nuklir saat ini menyumbang sekitar 5% dari total konsumsi energi dunia dan berkontribusi besar dalam menekan emisi karbon, setara dengan penghematan satu miliar ton minyak bumi dan tiga miliar ton CO2 setiap tahun. Namun, ia menegaskan bahwa limbah dari pembangkit nuklir menjadi tantangan besar karena sifatnya yang sangat berbahaya hingga ribuan bahkan ratusan ribu tahun.
“Energi nuklir sangat ramah lingkungan dari sisi emisi karbon, tapi memang memiliki tantangan besar pada sisi pengelolaan limbah radioaktif jangka panjang,” paparnya.
Sesi kedua pada sore hari dilanjutkan dengan tema Composite Materials, yang membahas pemanfaatan material komposit dalam industri, mulai dari otomotif, kedirgantaraan, hingga pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Rémi memaparkan bagaimana material komposit menjadi solusi dalam pengembangan material yang kuat, ringan, dan tahan lama.
Acara dipandu oleh moderator Dr. Eng. Riky Stepanus Situmorang, S.T., M.Eng. yang juga turut membuka sesi diskusi. Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah mengenai bagaimana cara mengelola energi nuklir dengan aman serta dampaknya terhadap lingkungan.
“Prinsip kerja reaktor nuklir sebenarnya sederhana, yakni membelah inti uranium untuk menghasilkan panas yang kemudian diubah menjadi energi listrik. Namun pengelolaan limbahnya menjadi sangat kompleks karena radioaktifnya bisa bertahan lebih dari seratus ribu tahun,” jawab Rémi.
Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya USU untuk terus meningkatkan reputasi akademik berstandar internasional. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan tentang isu-isu global dalam bidang energi dan material, tetapi juga memperkuat jejaring internasional USU dengan berbagai pihak di tingkat global.